
Takalar-Sulsel // Elhannews – Slogan-slogan besar berkumandang. “Takalar Bisa!” “Takalar Maju!” “Takalar Menyala!” Tapi coba kita tanyakan, bisa apa? Maju ke mana? Menyala di bagian mana?
Bagi sebagian orang, Takalar mungkin tampak berjalan ke depan. Ada proyek sana-sini, ada peresmian, ada foto-foto seremoni. Tapi di luar itu, jalanan tetap berlubang, penerangan tetap minim, dan rakyat tetap berjuang sendiri.
Malam hari di Takalar bukanlah cahaya kemajuan, tapi bayangan ketertinggalan. Galesong Raya gelap. Jalanan hancur. Lubang-lubang di aspal menganga seperti jebakan. Di sudut-sudut jalan yang tak tersentuh lampu, bayangan-bayangan bahaya semakin nyata. Kecelakaan, kriminalitas, semua tumbuh subur dalam gelapnya pembangunan yang timpang.
Dan ironinya, siapa yang berkuasa?
Ketua DPRD dari Galesong. Wakil Ketua DPRD dari Galesong. Wakil Bupati dari Galesong. Bahkan Istri Wakil Bupati pun duduk di DPRD Provinsi
Harusnya, dengan kuasa sebesar ini, Galesong Raya berdiri gagah. Harusnya, jalan-jalan mulus, lampu-lampu menerangi setiap sudut, dan rakyatnya menikmati pembangunan yang nyata.
Tapi faktanya? Jalanan tetap berlubang. Lampu jalan tetap nihil. Warga tetap waspada setiap kali berkendara atau sekadar berjalan malam hari.
Sementara itu, beberapa anggota DPRD asal Galesong entah di mana rimbanya. Dulu mereka menebar janji, kini mereka menebar bayangan. Tak ada yang tahu apakah mereka benar-benar bekerja atau hanya menikmati fasilitas tanpa benar-benar peduli.
Maka pertanyaannya: Mereka ini bekerja untuk rakyat, atau untuk dirinya sendiri?
“Takalar Bisa, Maju, dan Menyala” katanya. Tapi kenyataannya, yang bisa hanya segelintir orang, yang maju hanya kursi-kursi kekuasaan, dan yang menyala hanya lampu-lampu di ruang rapat, sementara jalanan tetap gelap.
Lantas, kita harus bertanya kembali:
“Where are my best local leaders ???”
“JANGAN BIARKAN TAKALAR HANYA BERCAHAYA DI BIBIR PARA PEJABAT, TAPI GELAP DI HATI RAKYATNYA.”
#Team
