
BONTOMANGAPE –
Galesong Raya hari ini tidak kekurangan pemimpin. Dari Ketua DPRD, Wakil Ketua DPRD, Wakil Bupati, sampai Anggota DPRD Provinsi —semuanya punya akar dari tanah ini. Tapi jalanan kita tetap rusak. Lampu jalan masih gelap. Pemekaran wilayah? Masih jadi wacana, bukan realisasi.
Nur kaslim Mauliady ilham, seorang pemuda dari Bontomangape yang akrab di sapa Daeng Ngawing, akhirnya bersuara:
> “Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Ia menantang semua legislator dan pejabat asal Galesong Raya untuk berhenti berdalih dan mulai bekerja nyata. Bukan sekadar hadir saat kampanye, tapi hadir ketika rakyat benar-benar butuh sentuhan pembangunan.
> “Kita ini ibarat kapal dengan awak lengkap, tapi kenapa masih jalan di tempat? “Kita punya pimpinan DPRD dari Galesong. Wakil ketua juga dari Galesong. Wakil bupati pun orang Galesong. Ditambah istri wakil bupati adalah anggota DPRD provinsi. Masa dengan kekuatan sebesar itu, Galesong masih gelap dan jalannya berlubang?” ungkap Nurkaslim Mauliady Ilham Daeng Awing.”
Koneksi kekuasaan Galesong itu kuat:
Ketua DPRD dan Wakilnya dari Galesong.
Wakil Bupati dari Galesong.
Istri Wakil Bupati anggota DPRD Provinsi.
Adik Bupati Takalar adalah Bupati Gowa.
Sekda Gowa dan Takalar bersaudara ipar.
Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi? Dekat sekali.
> “Yang jauh saja mereka bisa melakukan lobi lobi ke gubernur masa kita yang dekat malah pasif?”
Belum cukup? Ini kenyataan tambahannya:
Bupati Takalar punya adik yang juga menjabat sebagai bupati di Kabupaten Gowa.
Jalan poros Galesong langsung terhubung dengan Gowa.
Kenapa tidak dimanfaatkan jalur ini untuk mendorong percepatan pembangunan bersama?
Sekretaris Daerah Takalar dan Gowa pun bersaudara ipar.
Kita ini punya posisi, punya jaringan, punya akses ke mana-mana.
Kalau bukan karena tidak mampu, mungkin karena tidak betul-betul mau.
Ini bukan soal logika lagi, ini soal kemauan politik dan keberanian untuk memperjuangkan rakyat.
> “Jangan sampai Galesong kehilangan momentum hanya karena wakilnya sibuk saling tunggu atau terjebak urusan elitis,” tegas Nurkaslim.
Nurkaslim bukan sedang membangkitkan sentimen politik masa lalu. Ia ingin masa depan yang lebih terang, lebih tertata, dan lebih berpihak pada rakyat kecil.
> “Saya tidak bicara soal kekuasaan. Saya bicara soal kesempatan. Dan saya tidak mau Galesong kehilangan kesempatan hanya karena pemimpinnya saling diam.”
Ia mengajak semua yang terlibat di parlemen dan pemerintahan untuk berhenti main aman. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi pembenaran. Rakyat Galesong butuh perubahan—bukan basa-basi.
> “Jangan biarkan rakyat menyimpulkan bahwa kalian hanya kuat saat kampanye, tapi lemah saat dituntut bekerja.”
Galesong tidak kurang SDM. Yang kurang hanya keberanian untuk bertindak bersama.
Dan hari ini, Nurkaslim sudah memulai.
Giliran kalian menjawab.
Galesong Raya bisa maju. Tapi hanya kalau pemimpinnya benar-benar bersatu dan bergerak.
Jangan biarkan kesempatan emas ini lepas, sementara rakyat terus dihantui lubang jalan dan malam tanpa cahaya.
Hari ini, Nurkaslim Mauliady bersuara. Besok, bisa jadi ribuan akan menyusul.
Dan ketika rakyat mulai bersuara—tak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
