
ACEH TENGGARA — Saat api baru terlihat dari bagian atap sebuah rumah warga di Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Rabu sore (16/9/2026), warga sebenarnya masih memiliki harapan besar api bisa segera dipadamkan sebelum menjalar ke rumah-rumah lainnya.
Warga sekitar dan sejumlah orang yang melintas langsung berupaya mencari pertolongan. Salah satu yang didatangi adalah kantor BPBD yang jaraknya disebut hanya sekitar 200 meter dari lokasi kebakaran.
Namun, di tengah kepanikan dan kobaran api yang mulai membesar, warga justru mendapati kantor tersebut dalam kondisi kosong.
Pintu kantor disebut dalam keadaan terbuka, tetapi tidak terlihat petugas maupun penjaga yang sedang piket di lokasi.
Pertanyaannya sederhana tetapi serius:
Ketika bencana terjadi hanya sekitar 200 meter dari kantor BPBD, siapa yang seharusnya pertama kali merespons?
Warga datang bukan untuk meminta pelayanan biasa. Mereka datang membawa kabar darurat—API SEDANG MEMBAKAR RUMAH WARGA.
Dalam situasi seperti ini, hitungan menit sangat berharga. Api yang pada awalnya masih mungkin dikendalikan dapat berubah menjadi kebakaran besar apabila penanganan terlambat.
Dan faktanya, kebakaran tersebut kemudian menghanguskan sedikitnya kurang lebih sembilan rumah warga.
Apakah kondisi kantor yang kosong tersebut memang bagian dari sistem piket? Apakah petugas sedang menjalankan tugas di tempat lain? Apakah armada pemadam berada di lokasi berbeda? Atau ada persoalan lain yang menyebabkan warga tidak menemukan petugas ketika datang meminta bantuan?
Semua pertanyaan itu membutuhkan penjelasan resmi.
Ini bukan sekadar persoalan sebuah kantor yang kosong.
Ini menyangkut kesiapsiagaan menghadapi bencana dan kecepatan negara hadir ketika masyarakat berada dalam keadaan darurat.
Masyarakat berhak mendapatkan jawaban yang jelas.
Jika memang ada petugas yang sedang bertugas di tempat lain, jelaskan. Jika ada kendala komunikasi atau pengerahan armada, sampaikan. Jika terdapat kelemahan dalam sistem piket, lakukan evaluasi.
Jangan sampai masyarakat baru melihat pentingnya kesiapsiagaan BPBD setelah api berubah menjadi bencana besar.
Kebakaran Bambel Gabungan harus menjadi momentum evaluasi.
Sebab ketika api mulai membesar, warga tidak membutuhkan kantor yang hanya pintunya terbuka.
Warga membutuhkan PETUGAS YANG SIAP DATANG.
Catatan: Kondisi kantor dan sistem piket BPBD pada saat kejadian perlu diklarifikasi secara resmi oleh pihak BPBD Aceh Tenggara agar informasi yang beredar tidak menjadi kesimpulan sepihak.
